Logo Kudus

Liem Swie King, Legenda Bulu Tangkis Indonesia Sang King of Smash

11 Maret 2026Saldy

Kudus – Liem Swie King dikenal sebagai legenda bulu tangkis Indonesia dengan pukulan jumping smash ikonik. Ia menorehkan berbagai prestasi dunia, termasuk tiga gelar All England dan emas Asian Games 1978.

Perjalanan Karier Liem Swie King

Liem Swie King merupakan salah satu legenda bulu tangkis Indonesia yang dikenal luas dengan julukan King of Smash. Atlet kelahiran Kudus, Jawa Tengah, 28 Februari 1956 ini terkenal berkat pukulan jumping smash yang keras dan cepat, yang menjadi ciri khas permainan agresifnya di lapangan.

Nama Liem Swie King mulai mencuri perhatian dunia bulu tangkis ketika ia berhasil menantang legenda Indonesia lainnya, Rudy Hartono, pada final All England 1976. Saat itu, Swie King masih berusia 20 tahun. Sejak momen tersebut, ia dianggap sebagai penerus kejayaan Rudy Hartono di turnamen bulu tangkis paling bergengsi dunia itu.

Sepanjang kariernya, Swie King tercatat enam kali berturut-turut menjadi finalis All England (1976–1981). Dari enam kesempatan tersebut, ia berhasil meraih tiga gelar juara pada 1978, 1979, dan 1981.

Selain itu, Swie King juga mengoleksi puluhan gelar dari berbagai turnamen Grand Prix bulu tangkis internasional, menjadikannya salah satu pemain paling dominan pada era akhir 1970-an hingga awal 1980-an.

Awal Karier dari Kudus

Perjalanan Swie King di dunia bulu tangkis dimulai sejak kecil di kota kelahirannya, Kudus. Ia mulai bermain bulu tangkis atas dorongan orang tuanya. Bakatnya semakin berkembang setelah bergabung dengan PB Djarum, klub yang dikenal banyak melahirkan atlet nasional Indonesia.

Prestasi awalnya mulai terlihat pada 1972 ketika ia menjadi Juara I Junior se-Jawa Tengah. Setahun kemudian, pada usia 17 tahun, ia tampil di Pekan Olahraga Nasional (PON) 1973 dan meraih prestasi yang membuatnya direkrut ke Pelatnas di Hall C Senayan.

Di tingkat nasional, Swie King juga berhasil menjuarai Kejuaraan Nasional (Kejurnas) 1974 dan 1975, yang semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu pemain terbaik Indonesia saat itu.

Prestasi Internasional dan Piala Thomas

Di level internasional, Liem Swie King mencatatkan banyak pencapaian penting bagi Indonesia. Selain tiga gelar All England, ia juga meraih medali emas tunggal putra Asian Games 1978 di Bangkok.

Swie King juga menjadi bagian penting tim Indonesia di ajang Piala Thomas. Ia tercatat enam kali membela tim nasional, dengan tiga di antaranya berakhir dengan gelar juara bagi Indonesia pada 1976, 1979, dan 1984.

Gaya bermainnya yang cepat, berani, dan penuh tekanan membuatnya menjadi salah satu pemain yang paling disegani di dunia bulu tangkis pada masanya.

Pensiun dan Beralih ke Dunia Usaha

Setelah sekitar 15 tahun berkarier di dunia bulu tangkis, Liem Swie King memutuskan pensiun dari tim nasional pada 1988. Pada masa awal setelah pensiun, ia sempat kesulitan menentukan langkah karena sebagian besar keahlian yang dimilikinya berkaitan dengan olahraga.

Namun kemudian ia mulai terjun ke dunia bisnis dengan membantu mengelola hotel milik mertuanya di kawasan Melawai, Jakarta Selatan. Dari pengalaman tersebut, ia kemudian mengembangkan usaha di bidang griya pijat kesehatan atau spa.

Usaha tersebut berkembang dan membuka beberapa cabang, antara lain di Grand Wijaya Centre, Fatmawati, dan Kelapa Gading. Bisnis ini mempekerjakan ratusan karyawan dan melayani pelanggan dari berbagai kalangan, termasuk ekspatriat.


Inspirasi Bagi Generasi Atlet

Selain dikenal sebagai legenda bulu tangkis, Liem Swie King juga menjadi inspirasi bagi generasi atlet muda Indonesia. Kisah perjuangannya bahkan menginspirasi karya film tentang dunia bulu tangkis Indonesia yang diproduksi oleh rumah produksi Alenia.

Meski film tersebut tidak secara langsung menceritakan kisah hidupnya, sosok Swie King digambarkan sebagai figur yang memotivasi seorang ayah untuk mendorong anaknya menjadi juara bulu tangkis.

Hingga kini, Liem Swie King tetap dikenang sebagai salah satu legenda bulu tangkis Indonesia yang membawa nama bangsa ke panggung dunia melalui prestasi dan gaya bermainnya yang ikonik.

Olahraga

BERITA TERKAIT

Hariyanto Arbi: Legenda Bulu Tangkis Indonesia “Smash 100 Watt”

16 Maret 2026

Hastomo Arbi, Pahlawan Piala Thomas 1984 dari Indonesia

13 Maret 2026

Fyan Javier, Petinju Muda Kudus Bidik Porprov Jawa Tengah

12 Maret 2026

Klasemen Akhir, DKI Jakarta Juara Umum

10 Maret 2026

KONI Pusat Resmi Tutup PON Bela Diri Kudus 2025

10 Maret 2026

SDUT Bumi Kartini Pertahankan Gelar, SD 3 Bulucangkring Jadi Juara Baru

10 Maret 2026

MilkLife Soccer Challenge 2025 – 2026 Membidik Pesepakbola Putri di 10 Kota

10 Maret 2026

[Festival Seneng Minton 2025 Seri 1] Diikuti 345 Peserta

10 Maret 2026
Kudus